Minggu, 24 Agustus 2008

Teh Campur Mint Halau Bau Mulut

Daun mint (mentha cordifolia) sering digunakan untuk dekorasi makanan. Tak hanya cantik, aroma wangi dan cita rasa dingin menyegarkan dari daun mint punya banyak manfaat. Aroma wangi dan sensasi semriwing daun mint itu berasal dari kandungan minyak menthol. Daun tersebut mengandung vitamin C, fosfor, besi, kalsium dan potasium. Selain itu masih ada serat, klorofil dan fitonutrien. Daun mint juga dipercaya mampu untuk memulihkan stamina tubuh, meredakan sakit kepala dan mencegah demam.
Daun mint mempunyai sifat antioksidan, fungsinya mencegah bau mulut, kanker, membunuh jamur dan menjaga kesehatan mata. Dengan pengolahan modern, ekstrak menthol dari daun mint digunakan untuk permen dan pasta gigi. Pada sampo anti ketombe, penambahan mint berperan menghambat pertumbuhan jamur penyebab ketombe.
Sayangnya banyak orang yang masih bingung mengolah daun mint. Sebagian menganggap daun mint hanya sebagai hiasan kue, puding atau minuman. Padahal daun tersebut bisa diolah menjadi berbagai macam masakan. Misalnya, sebagai campuran salad, bumbu seafood, jus, teh, dan minuman yang lain. Untuk campuran teh, cacah daun mint lalu seduh bersama teh, selain untuk manambah aroma dan rasa, aktioksidan teh dan mint menghalau bau mulut.

Madu Murni Maksimal Tiga Sendok Makan Bagi Penderita Diabetes

Madu hendaknya tidak dikonsumsi oleh penderita kencing manis (diabetes mellitus). Sebab, sumber glukosa berantai tunggal itu meningkatkan kadar gula darah secara cepat. Tapi bila terjadi hipoglikemik (kadar gula darah turun drastis), minum madu justru dianjurkan, sebab minum satu sendok makanan madu cukup untuk meningkatkan kadar gula dalam darah.
Ada tiga macam gula dalam madu. Yaitu glukosa, fraktosa dan sukrosa. Glukosa menyimpan oksigen yang digantikan asam laktat saat tubuh kelelahan. Sedangkan fruktosa lebih mudah mengkristal sehingga lebih mudah membentuk jaringan. Sukrosa merupakan perpaduan keduanya. Karbohidrat madu sekitar 79,5 gram per 100 gram, karena itu disarankan agar penderita diabetes tidak terlampau banyak minum madu, meskipun sedang hipoglikemik sebab jika terlampau banyak minum madu kadar gula justru terlalu cepat naik. Perubahan kadar gula dalam darah secara drastis juga tidak baik untuk tubuh. Setelah beberapa jam setelah minum madu, baru boleh minum lagi sampai maksimal tiga sendok makan sehari. Tiga sendok makan madu setara dengan lima persen dari kebutuhan kalori per hari. Inilah batas toleransi konsumsi gula murni bagi penderita diabetes militus.
Pastika juga bahwa madu yang dikonsumsi tersebut murni, sebab madu campuran yang banyak beredar dimasyarakat beresiko komplikasi. Penambahan gula pasir, pemanis buatan dan zat pengental mengubah kandungan nutrisinya. Selain itu zat pengental rawan memunculkan alergi. biasanya tenggorokan akan menjadi gatal dan panas

Diagnosis Diabetes dengan Periksa Mata

Deteksi dini diabetes mellitus (DM) umumnya dilakukan dengan tes gula darah. Ilmuwan dari Aston Univesity di Birmingham, Inggris meneliti kemungkinan deteksi dini diabetes melalui pemeriksaan mata. Deteksi ini diharapkan memprediksi kemungkinan seseorang menderita diabetes. Sekarang tim periset itu tengah mengumpulkan responden penelitian.
Dalam studi yang dilakukan tim ilmuwan dari Aston Ophthalmic Research Group (ORG) itu, diharapkan terlibat pria dan wanita sehat berusia 20-65 tahun. Riset tersebut sekaligus membandingkan kondisi diabetes komunitas Asia Selatan dan kelompok Kaukasian di Inggris. Responden akan menjalani tes ultrasonografi sederhana. Pemeriksaan itu itu untuk mengetahui kondisi jantun-pembuluh darah. Selain itu, pemeriksaan aliran darah dan diameter pembuluh darah mata. Terakhir adalah tes glukosa dan kolesterol darah.
Dalam penelitian yang dipimpin dr Doina Gherghel, seorang spesialis mata itu, akan dilakukan tes pada responden keturunan Asia Selatan yang meliputi India, Srilangka, Pakistan dan Bangladesh, juga penduduk ras Kaukasian. Dalam penelitian responden tidak dibedakan ada tidaknya riwayat diabetes mellitus.
DI Inggris saat ini ada dua juta orang pengidap diabetes. Lebih dari 750 ribu orang membawa penyakitnya tanpa sadar. Sedangkan dikomunitas Asia Selatan, kondisinya jauh berbeda. Satu diantara tiga orang penduduk India, Srilangka, Pakistan dan Bangladesh dicurigai menderita diabetes. Jumlah tersebut tentu sangat mengkhawatirkan. Deteksi dini diabetes mellitus diharapkan meminimalisasi jumlah penderita.

Sabtu, 23 Agustus 2008

Stres, Bagaimana Mengatasinya?

Siapa pun bisa mengalami stres. Termasuk anda, teman-teman anda, bos anda, orang tua anda, pokoknya hampir semua orang mengalaminya. Sebabnya bisa bermacam-macam. Mulai dari pekerjaan yang menumpuk, tekanan dari atasan, tugas sekolah atau kuliah, tekanan dari orang tua, himpitan ekonomi, atau ditagih hutang. Wow, pokoknya banyak sekali.
Gejalanya adalah kita merasa tidak tenang, baik hati maupun pikiran. Ketika respon stres ini terjadi, maka unsur neurotis di dalam otak kita tidak stabil.
Jika kita sering stres maka akan berpengaruh buruk pada otak kita, menyebabkan ketidakseimbangan kimiawi. Dan itu juga akan berpengaruh pada memori, fokus, dan konsentrasi. Dan biasanya cenderung membuat
kita tidak bisa tenang.
Nah, masalahnya adalah bagaimana mengontrol stres ini jika gejala alamiah ini melanda kita? Bagaimana cara memenejnya secara efektif?
Inilah beberapa hal yang bisa anda lakukan:
1. Kendalikan pikiran
Orang rata-rata mempunyai 60.000 pikiran dalam sehari, dan hampir 80% dari pikiran-pikiran itu negatif. Bayangkan, bagaimana pengaruh pikiran ini ke badan anda! Pikiran negatif ini mempengaruhi pola dan kelakuan yang ada di bawah pikiran sadar anda, dan ini mempunyai dampak yang tak sehat di badan anda.
Cara mengatasinya adalah dengan mengubah pikiran-pikiran negatif itu dengan pikiran positif dan berusaha meyakinkan diri anda sendiri bahwa anda adalah apa yang anda pikirkan secara positif. Kalau perlu katakan
pada diri anda: Saya kuat, saya tidak apa-apa, saya bisa melalui semua ini.
Ulangilah afirmasi positif ini sepanjang hari sampai ini mempengaruhi tekanan yang menghimpit anda. Pasti akan ada pengaruh perubahan pada sikap
anda selanjutnya.
2. Kurangi stimulan penyebab stres
Stres, gelisah, insomnia, dan pikiran yang berkelindan atau berjalan terlalu cepat dan sulit dikendalikan biasanya merupakan efek samping dari kebanyakan kafein. Stimulator sistem saraf pusat yang dipengaruhi kafein itu bertentangan dengan relaksasi tubuh dan ketenangan pikiran.
Cara mengatasinya: coba sedikit berbalik ke masa seminggu yang telah kita lalui, apa yang menyebabkan stres itu kita alami saat ini. Kurangi kafein dan coba ganti dengan teh herbal. Juga hindari minuman soda atau minuman
lain yang dapat menstimulasi jaringan otak kita hingga membuat stres.
3. Tarik napas dalam-dalam
Jika anda betul-betul stres, maka napas anda cenderung dangkal, mungkin hanya sampai kerongkongan. Sayangnya, orang dewasa cenderung bernapas seperti ini. cara bernapas seperti ini dapat mempengaruhi tubuh dan memicu stres, dan juga mempengaruhi ketidaktenangan diri (gelisah).
Jika anda bisa belajar bernapas lebih dalam sepanjang hari - dengan bernapas dari diafragma - anda akan mengurangi rasa gelisah dan akan mendapatkan banyak keuntungan, seperti tekanan darah yang tidak akan meningkat, dan jantung yang stabil. Selain itu, diperkirakan 70% toksin di dalam tubuh kita dikeluarkan melalui pernapasan.
Nah, mungkin anda bisa mencoba tiga hal ini. Hanya dibutuhkan kepercayaan bahwa stres adalah gejala universal yang bukan tidak mungkin untuk diatasi secara pribadi. Jadi, tidak musti harus dilampiaskan ke hal-hal yang negatif yang justru akan membuat kita semakin sakit.
Selamat mencoba!

Kamis, 21 Agustus 2008

Terlalu Gemuk Turunkan Kualitas Sperma

Pria yang terlalu gemuk umumnya memiliki kualitas sperma yang buruk. Hal ini disebabkan terlalu banyaknya lemak di sekitar organ testis (kemaluan) yang menyebabkan air mani (sperma) menjadi panas.
Para peneliti di Universitas Aberdeen meneliti lebih dari 2.000 sperma laki-laki yang memiliki pasangan dan mempunyai problem kualitas sperma ini.
Dari penelitian itu ditemukan, lelaki dengan berat badan paling tinggi memiliki proporsi tingkat abnormalitas sperma yang lebih besar, selain tentu saja mereka juga memiliki beberapa problem yang lain.
Para ilmuwan mengatakan, penurunan berat badan akan sangat berpengaruh pada tingkat fertilitas (kesuburan) seseorang.
Faktor-faktor lain yang mempengaruhi fertilitas dalam kasus ini, seperti merokok, tingkat konsumsi alkohol yang tinggi, merupakan bagian yang juga diperhitungkan oleh para peneliti.
Laki-laki yang tingkat BMI-nya (Body Mass Index atau indek berat badan) normal, yaitu 20 sampai 25 umumnya memiliki sperma yang normal dibandingkan dengan mereka yang memiliki kelebihan berat badan.
Mereka juga memiliki volume air mani yang lebih besar dibandingkan mereka yang terlalu gemuk. Demikian seperti dilaporkan berdasarkan hasil pertemuan Masyarakat Eropa Untuk Reproduksi dan Embriologi Manusia di Barcelona.
Sebaliknya, mereka yang tingkat BMI-nya lebih tinggi (terlalu gemuk) memiliki volume air mani yang lebih rendah, dan memiliki proporsi abnormalitas sperma yang lebih besar.
Sementara itu, studi yang lain menghubungkan antara obesitas dengan rusaknya DNA sperma.
Kualitas air mani
Dr. Ghiyath Shayeb, peneliti di Universitas Aberdeen mengatakan, penemuannya tersebut sangat independen dari faktor yang lain dan ini menjadi catatan tersendiri bahwa siapapun laki-laki yang ingin memiliki anak, pertama-tama ia harus mencapai berat badan ideal.
Dari catatan penelitian itu juga ditekankan bahwa gaya hidup sehat, diet seimbang, latihan-latihan regular, dalam beberapa kasus besar, sangat berhubungan dengan tingkat BMI yang normal.
Para peneliti dalam hal ini terfokus pada BMI laki-laki pada pasangan subur dan pasangan tak subur untuk membandingkan kualitas air mani yang rendah yang langsung dihubungkan dengan fertilitas yang rendah, lalu menguji lebih jauh bagaimana obesitas bisa merusak sperma.
Dr. Shayeb mengatakan, ada banyak penjelasan, termasuk perbedaan level hormon pada pria gemuk, pemanasan berlebihan pada testis yang disebabkan banyaknya lemak di sekitar organ, atau sekedar karena gaya hidup dan diet yang juga menyebabkan rendahnya kualitas air mani.
Namun penelitian itu merekomendasikan mereka yang saat ini mengalami kelebihan berat badan, khususnya laki-laki, akan lebih baik segera melakukan program penurunan berat badan untuk menghindari potensi rusaknya sperma yang akan berpengaruh pada fertilitas reproduksi.

Air Ludah, Satu Sumber Obat Baru

Para peneliti dari Belanda telah mengidentifikasi satu zat di dalam air ludah manusia yang mempercepat penyembuhan luka, demikian laporan mereka yang disiarkan Rabu di The Journal of Federation of American Societies for Experimental Biology (FASEB).
Tim peneliti tersebut mendapati bahwa histatin, protein kecil di dalam air ludah yang sebelumnya hanya dipercaya membunuh bakteri bertanggung jawab atas penyembuhan luka.
Penelitian itu mungkin menawarkan harapan kepada orang yang menderita luka kronis yang berhubungan dengan diabetes dan gangguan lain, serta luka traumatis dan luka bakar. Selain itu, karena zat tersebut dapat diproduksi secara massal, maka zat itu memiliki potensi untuk menjadi sama umumnya dengan krim antibiotik dan alkohol gosok.
"Kami berharap temuan kami pada akhirnya bermanfaat buat orang yang menderita luka yang tak kunjung sembuh, seperti borok di kaki dan luka akibat diabetes, serta bagi perawatan luka mengakibatkan trauma seperti luka bakar," kata Menno Oudhoff, penulis pertama laporan tersebut.
"Studi ini bukan hanya menjawab pertanyaan biologi mengenai mengapa hewan menjilati luka mereka," kata Gerald Weissmann, Pemimpin Redaksi FASEB Journal. "Itu juga menjelaskan mengapa luka di mulut, seperti luka setelah pencabutan gigi, sembuh jauh lebih cepat dibandingkan dengan luka pada kulit dan tulang. Itu juga mengarahkan kita untuk mulai memandang air ludah sebagai satu sumber bagi obat baru."

Makin Tua, Otak Jadi Kurang Tertata

Lupa di mana anda menaruh kunci? Atau mobil anda? Jika anda berusia di atas 60 tahun, itu mungkin menjadi sesuatu yang normal di usia tua, kata beberapa peneliti AS, dalam studi yang menyatakan susunan otak merosot sejalan dengan bertambahnya usia pada orang yang mestinya sehat.
Studi tersebut, yang disiarkan dalam jurnal Neuron, adalah bagian dari suatu upaya oleh para peneliti Harvard University untuk memahami perbedaan antara kemerosotan norma, yang berhubungan dengan usia dan kerusakan klinis.
"Kami berusaha memahami ujung batas itu antara penuaan normal dan penyakit Alzheimer," kata Randy Buckner, profesor Harvard dan peneliti Howard Hughes Medical Institute yang mengerjakan studi itu.
Buckner dan rekannya mengambil gambar pemeriksaan otak dari 55 orang dewasa yang berusia 60 tahun dan lebih, dan 38 orang dewasa yang lebih muda dalam usia 35 tahun dan lebih muda. Mereka menggunakan teknik pencitraan yang disebut PET untuk mendeteksi keberadaan amyloid, bahan kimia yang secara khusus berhubungan dengan penyakit Alzheimer, untuk mengesampingkan orang yang kemerosotan daya ingatnya berhubungan dengan penyakit.
Apa yang mereka temukan ialah sebagian sistem otak menjadi kurang teratur sehubungan dengan perkembangan usia.
"Kelihatannya itu merupakan dampak penuaan normal terlepas dari penyakit Alzheimer," kata Buckner dalam suatu wawancara telpon.
Mereka mendapati susunan otak yang disebut "jalur masalah putih", yang membawa keterangan antar-wilayah otak yang berbeda, hanya merosot pada kelompok orang berusia tua.
"Pada orang dewasa yang berusia muda, bagian depan otak tersusun rapi dengan bagian belakang otak," kata Jessica Andrews-Hanna, tamatan perguruan tinggi di laboratorium Buckner, dalam suatu pernyataan.
"Pada orang dewasa yang lebih tua bukan ini kasusnya. Wilayah tersebut menjadi tak harmonis dan kurang terhubung satu sama lain," katanya.
Buckner mengatakan studi itu menunjukkan kemerosotan kemampuan kognitif pada orang berusia lanjut mungkin berhubungan dengan masalah komunikasi antar-wilayah otak.
"Kami berbicara mengenai suatu dampak yang berkembang pada beberapa dasawarsa terakhir hidup kita," katanya.
Tidak setiap orang terganggu pada tingkat yang sama. Ini mungkin membantu dalam menjelaskan mengapa sebagian orang yang terserang penyakit Alzheimer menyerah dengan cepat dan yang lain mengalami kemerosotan lebih lamban.
"Sebagian otak mungkin lebih siap untuk menghadapi serangan penyakit Alzheimer," kata Buckner. Ditambahkannya, penuaan normal ringan dibandingkan dengan mereka yang berkaitan dengan penyakit progresif yang menimbulkan kemerosotan dan merampas kemampuan orang untuk mengingat, memberi alasan dan berkomunikasi.
"Meskipun itu mungkin berarti otak kita pada usia 80 tahun tidak seperti ketika kita berusia 20 tahun, itu bukan berarti kita tidak berusaha terlalu baik dibandingkan dengan penyakit (tersebut)," kata Buckner.